Kung Fu Sepak Terjang Dalam Perebutan Kemerdekaan dan Melawan Penjajahan

TOTALKLIK.com–Siapa yang dikenal dengan bela diri berasal dari Tionghoa yakni Kung Fu atau Kung Tao, seni bela diri ini sangat populer dalam film aksi bernuansa dengan budaya negeri tirai bambu itu.

Kungfu sendiri sudah lama berkembang menjadi budaya dan seiring dengan ajaran Kong Hu Cu di Tianghoa, seni yang berfalsafah melawan penindasan.

Tersebarnya seni bela diri Kung Fu sampai ke Nusantara pengaruh dari hubungan mancanegara dimasa lalu, baik oleh kesuktanan maupun VOC. Penyebaran ini pun tak luput dari ragam ekspedisi perwakilan Tionghoa yang memiliki pengawal berkemampuan bela diri.

Dilansir dari National Geographic, Erwin Tan seorang peneliti dari Traditional Chinese Martial Art berujar, seni itu pun perlahan berkembang di Nusantara dan diajarkan pula pada penduduk bumiputera.

Dia, dalam webinar Jejak Kungfu di Indonesia menjelaskan bila penggunaan Kung Fu sebagai perlawanan anti penjajahan sangat nampak pada abad XVII dan XVIII untuk melawan VOC.

“Disitu tercatat orang-orang Tionghoa bahu membahu dengan orang di Jawa dalam dunia militer, ada yang pandai senjata dan tangan kosong. Jadi catatan ini terlihat di waktu itu bukan cuma sekedar migrasi tapi juga membawa sesuatu–seperti keahlian beladirinya,” terang Erwin.

Penggunaan Kung Fu ini pun kian kuat dalam melakukan perlawanan pada peristiwa Geger Pacinan, sebuah momen berdarah pembantai orang Tionghoa oleh VOC. Peristiwa itu setidaknya menangkap 1.000 orang Tionghoa di Batavia yang membelot.

“Enggak mungkin orang militer [VOC] membantai orang sipil begitu saja kalau sampai ada pembantaian seperti itu,” papar Erwin. “Itu kan pastinya orang Tionghoa ini enggak mungkin enggak bisa apa-apa–tapi setidaknya punya skill.”

Salah satu pendekar yang berjuang dan menghimpun laskar itu adalah Kapitan Sepanjang (Souw Pan Djang/Tay Wan Soey).

Perjuangan itu pun menyebar bersama masyarakat bumiputera dan etnis Tionghoa lainnya di Jawa seperti Perang Kuning (sekitar 1742-1750) di Lasem yang dipelopori Tan Kee Wie, Oey Ing Kiat dan Panji Margono.

Peneliti lainnya, Alex Cheung, Kung Fu di Nusantara juga berkembang pesat di abad ke-20 awal. Di masa inilah ragam aliran masuk yang kemudian menjadi senjata masyarakat Tionghoa ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan.

Kung Fu
Kawasan di Kota Batavia, kemungkinan Jalan Tiang Bendera kini. Cuplikan dalam litografi Jakob van der Schley (1715–1779) berdasar lukisan karya Adolf van der Laan (1690 –1742) tentang Massacre des Chinois—pembantaian orang-orang Cina di Batavia pada 9 Oktober 1740. [Rijksmuseum Amsterdam]
“Kala kita lihat para praktisi di masa pra-kemerdekaan dan revolusi, kebanyakan hidupnya membaur seperti masyarakat biasa, jadi buruh, petani, nelayan. Sehingga tidak menonjolkan dirinya—sesuai dengan falsafah Kung Fu yang tertutup,” terang Alex dalam webinar.

Salah satu pendekar itu bernama Tan Kai Tjok yang tinggal di Kepulauan Yapen Papua. Dia berasal dari Tiongkok, lalu masuk ke Papua berkat restu dari Kesultanan Ternate.

Di masa Jepang, Huo Yanjia—pendekar di Tiongkok yang kemudian di filmkan dengan judul Fearless dan diperankan oleh Jet Li, memiliki putra bernama Huo Dongge yang tinggal di Hindia Belanda dan mendirikan perkumpulan silat Tjeng Boe Hwee.

“Dongge memiliki kisah perjuangan yang sangat heroik, dia sempat ditangkap dan dipenjarakan sama [pemerintah pendudukan] Jepang [di Hindia Belanda],” ungkap Alex.

Gunawan Rusli, anak dari salah satu murid Huo Dongge menjelaskan kiprah sang ahli bela diri yang pandai bersastra itu.

“Dari ayah saya, sewaktu dia (Huo Dongge) di penjara, melihat para tahanan ditindas oleh salah satu tahanan Belanda. Semua makanan disikat semua sama si Belanda, dan enggak berani karena dia garang. Cuma Huo Dongge yang berani dan ditantang si Belanda itu,” kenangnya.

“Dongge enggak sampai satu jurus, si Belanda itu jatuh.”

Hingga kemudian, di dalam penjara itu ia disegani dan para tahanan lainnya bisa makan dengan porsi yang cukup tanpa takut dirampas.

Aksi para pendekar Kung Fu juga terdapat di Tangerang oleh Oey Teng Tjong pada Gedoran Cina, Juni 1946. Ia mengumpulkan para praktisi Kung Tao dan aliran lainnya seperti Haji Matdawi dari silat betawi.

Kelompok yang terdiri 27 orang itu berangkat dari Serang menuju perkampungan di Sepatan yang terkepung. Di kampung itu, orang Tionghoa disiksa, ditelanjangi, hingga dibunuh. Berita ini tersiar dalam koran Sin Po yang menyebut 10.000 orang Tionghoa lari ke Jakarta berkat bantuan para pendekar itu.

Meski demikian, Alex berujar, para praktisi menjadikan bela diri sebagai profesi di masa itu. Misalnya yang tersohor pada masanya, Lie Tjeng Yang (1889-1972) seorang ahli Kung Tao perankan Tionghoa menjadi pegulat melawan Wong Hian Kun yang merupakan Tionghoa totok.

Pertandingan ini disiarkan di Pemberita Makassar dan Soerabajasch Advertantiebland, yang dimenangkan Tjeng Yang dengan sekejap. Karena pertandingan itu juga menjadi ajang pertaruhan para penonton, ketika seorang gubernur Belanda yang mempertaruhkan Wong Hian, tak terima atas kekalahan ini.

Tetapi pertandingan tetap dihentikan karena Wong Hian—yang dikenal sebagai master Kung Fu–merasa tak mampu lagi melawan Tjeng yang.

Tak selalu Kung Fu berhubungan dengan masyarakat bawah, beberapa pergerak kemerdekaan juga sempat mempelajarinya, seperti Liem Koen Hian dan Siauw Giok Tjhian.

Bagi Koen Hian, kungfu yang dipelajarinya membuatnya belajar untuk melawan ketidakadilan di sekolah Hollandsche Chineesche School (HCS). Kemampuannya inilah yang kemudian membuatnya harus dikeluarkan dari HCS pada kelas VI, karena melawan gurunya yang sewenang-wenang.

Pasca penyerahan kekuasaan dari Hindia Belanda ke Indonesia, kesenian Kung Fu tetap mewarnai bela diri negara. Kesenian ini, meski mulai tergerus di mata anak-anak muda, tetapi masih diterapkan sebagai latihan di dunia militer, dan cabang olimpiade.

Ada banyak yang mengharumkan bangsa menggunakan teknik yang diajarkan Kung Fu ini, seperti Lindwell Kwok lewat cabang olahraga Wushu, dan Christ John sebagai petinju kelas dunia.

Charly Huang menilai, tergerusnya Kung Fu di pandangan anak muda karena tak memiliki bukti otentik gambar kegiatannya di internet. Sebab, bagi praktisi di masa lalu lebih cenderung tertutup dan menggunakan kemampuannya seadanya–bukan untuk dipamer-pamerkan.

Kung Fu hanya isapan jempol saja. Ah, badannya tidak six pack, mana bisa mengalahkan orang dalam 1-3 gerakan saja?” jelas Charly mengenai pandangan anak muda.

“Anak muda sekarang pesimis karena banyak juga orang yang ngaku-ngaku, padahal enggak layak [jadi ahli Kung Fu]. Perjuangan Tionghoa [lewat Kung Fu] itu tercatat, tapi generasi sekarang banyak yang hilang karena diteruskannya hanya sekedar dari mulut ke mulut yang rawan bias dan akhirnya menghilang.” (*)